Bismillahirrahmanirrahim
Wahai, engkau pemimpin rumah tanggamu,
Jadilah kamu raja di rumahmu. Cintai dan sayangilah isterimu dengan tulus dan jadikan ia sebagai ratumu. Jadikanlah ia bangga menjadi permaisuri di kerajaanmu dengan berazaskan cinta kasih dan ketaatan kepada Allah SWT. Berikan dirinya makanan yang enak dan cukup dan berikan untuknya beragam jenis pakaian. Persemahkan untuknya parfum karena wanita menyukai parfum yang harum. Buatlah istrimu bahagia selama kamu hidup dan berikanlah nafkah yang baik dan halal untuk isteri dan anakmu.
Sesungguhnya seorang istri bagaikan cermin bagi suami dan menjadi bukti akan apa yang telah diusahakannya dalam menggapai kebahagiaan maupun kesengsaraan. Kamu adalah laksana pakaian bagi istrimu yang mampu mencitrakan kecantikan diri dan pribadinya serta menutupi kekurangannya. Janganlah kamu terlalu keras dalam rumah tanggamu karena seorang isteri diciptakan dari tulang rusukmu, bagian dari dirimu. Tulang rusuk terletak di tempat yang terlindung sehingga isterimu pun ada untuk selalu kamu lindungi. Seperti tulang rusuk yang bengkok, amanahkanlah yang baik kepada isterimu karena jika kamu terlalu keras dalam meluruskan maka ia akan patah dan jika kamu biarkan maka selamanya ia akan bengkok.
Kamu seorang imam dan pemimpin dalam keluarga maka berikanlah contoh yang baik. Dengan sikap lemah lembut akan mampu menggetarkan hati wanita ketika ia berbuat suatu kesalahan maupun ketika ia melakukan satu perbuatan buruk. Berikanlah semua yang diinginkannya selama kamu mampu mewujudkannya. Serta berikan pula padanya kesenangannya dan ia pun akan menyenangkanmu dan membuatmu terus bahagia. Jika tidak demikian maka hidupmu akan hancur berantakan. Dekatkanlah dirimu kepadanya dan panggillah istrimu dengan panggilan yang menyenangkannya. Ingatlah, sebaik apapun seorang istri yang Allah berikan kepadamu, jika pikiranmu sibuk membayangkan kekurangannya maka kamu akan mendapati kekurangan dan keburukannya sebanyak kamu sanggup untuk mencatatnya. Akan tetapi jika kamu menyibukkan diri dengan melihat kelebihan dan kebaikannya, maka kamu akan mendapati kebaikan sebanyak yang ada pada dirinya dan hal itu akan membuatmu bahagia. Oleh karena itu, hormati dirinya dan tunjukkan rasa kasih sayangmu yang konsisten.
Disamping itu, sayangi dan hormatilah kedua orang tuanya sebagaimana orang tuamu sendiri. Kemudian jangan pernah sekalipun membuat ibumu marah kepadamu karena rintihannya akan langsung didengarkan oleh Allah SWT dan kamupun akan mendapatkan hukuman – Nya.
dedaunan
Kita adalah dedaunan itu,
pernah menghijau menebar rindu,
pernah kering dan berguguran,
lalu melayang bersama debu,
ditiup angin.
Kita adalah dedaunan itu,
ranting-ranting kita adalah perayaan,
dahan-dahan kita adalah keberanian,
matahari dan hujan adalah pandangan hidup,
lantas mengapa kita anggap angin sebagai keluh kesah?
Kita adalah dedaunan itu,
bersatu tanpa ikatan tali temali,
menari tanpa alunan kecapi,
tetapi kita adalah pengisi kehampaan,
itulah alasan kita punya arti bagi bumi.
Kita adalah dedaunan itu,
tak pernah berharap taman menjadi sunyi,
karena kita bukanlah bala tentara sang raja,
tak kenal busung-busungkan dada,
tak kenal pula tunduk merunduk.
Pernah kita cari kebenaran,
bertanya pada burung yang melintas,
memohon pencerahan pada malam kelam,
tetapi satupun tak pernah mendapat jawaban,
karena kita hanyalah dedaunan.
Bersabarlah wahai hati...Bukankah indahnya pelangi itu, baru kita rasakan setelah turunnya hujan??
Tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama atau tidakan sesebuah keberanian bertahan dalam diri seseorang itu. Jika ada di antara kamu dua puluh orang penyabar, nescaya mereka akan mengalahkan dua ratus orang. Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), nescaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir.” (QS. 8: 65).
Ada banyak orang berani yang tidak mengakhiri hidup sebagai seorang yang pemberani. Kerana mereka gagal menahan beban yang mendatang. Kesabaran adalah daya tahan psikologi yang menentukan sejauh apa kita mampu membawa beban, dan sekuat apa kita mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup. Mereka yang memiliki sifat ini pastilah berbakat menjadi pemimpin besar. “Dan Kami jadikan di antara mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka selalu yakin dengan ayat-ayat Kami.” (QS. 32 : 24).
Tetapi kesabaran itu pahit. Semua kita tahu begitulah rasanya kesabaran itu. Dan begitulah suatu masa Rasulullah saw mengatakan kepada seorang wanita yang sedang menangisi kematian anaknya: “Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada ujian pertama.” (Bukhari dan Muslim).
Jadi, yang pahit dari kesabaran itu hanya permulaannya. Kesabaran pada ujian pertama menciptakan kekebalan pada ujian selanjutnya. “Mereka memanahku bertubi-tubi, sampai-sampai panah itu hanya menembus panah,” kata penyair Arab terhebat sepanjang sejarah, Al-Mutanabbi.
Mereka yang memiliki naluri keberanian, harus mengambil saham terbesar dari kesabaran. Mereka harus sabar dalam segala hal: dalam ketaatan, meninggalkan maksiat atau menghadapi cubaan. Dan dengan kesabaran tertinggi, sehingga akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya,” kata Ibnul Qayyim.
Allah tak pernah janjikan langit selalu biru, jalan hidup tanpa batu, matahari tanpa hujan, kebahagiaan tanpa kesedihan, sukses tanpa perjuangan. Tapi Allah janjikan kemudahan bersama kesulitan, rahmat dalam ujian, ganjaran buat kesabaran, keteguhan dalam perjuangan.. Bukankah indahnya pelangi itu, baru kita rasakan setelah turunnya hujan?

Hatiku....
Bersabarlah saat dirimu mulai dilupakan
Bersabarlah saat inginmu tak tergapai
Bersabarlah saat ada yang menghinamu
Karena disaat itulah Tuhan ingin menaikan derajatmu
Wahai hatiku.......
Takhlukanlah angkuhmu
Meskipun kau harus bersimbah darah
Meskipun kau harus terhunus pedang
Namun yakinlah selama Tuhan masih bersamamu
Semua bisa kau lalui
Duhai hatiku......
Jadilah kau seperti karang dilaut
Yang tak hanya sekedar kuat
Tapi juga mampu menenangkan ombak
Untukmu hatiku.....
Belajarlah kau tuk memberi
Tanpa berharap tuk kembali
Belajarlah bersabar dan tetaplah tersenyum
Walaupun kau terluka oleh angkuhnya duniawi
Lepaskanlah egomu dan tundukkanlah hatimu
Pada yang Maha Kasih
Karena hanya Dia tempatmu mengadu dan kembali
Bersabarlah hatiku.....
Walaupun kau tersakiti oleh orang-orang yang kau kasihi
Janganlah kau merasa sendiri
Karena ada Tuhan yang selalu menemani
Dalam setiap denyt nadi
Bahkan Ia lebih dekat daripada urat lehermu sendiri
Yakinlah bahwa esok masih ada matahari
Yang akan bersinar indah
Meskipun kini mendung menyelimuti
Dan menghadirkan nuansa kelam nan mencekam.

Wahai jiwa yang tenang..Kembalilah kepada Allah…berharaplah kepada Allah.. Kita sudah terlalu lama meletakkan pengharapan kepada manusia, menyangka manusia boleh membahagiakan kita, rupa-rupanya tidak..bagaimana harus meminta kepada manusia sedangkan mereka juga lemah seperti kita.. Kembalilah..Kembalilah..Berharaplah, berdoalah….kerana hari itu hari yang sangat sulit.. Saat sesak bertarung dengan sakaratulmaut…Nabi pun sakit kita sedia tahu.. Menghadapi alam kubur yang tak tahu samada cerah atau gelap, sempit atau lapang, digigit binatang ke..kawah neraka atau taman syurga.. Seterusnya dibangkitkan dipadang mahsyar, pada hari yang panas, gelap..bingung,kita takde apa-apa dengan keadaan telanjang..harta, anak, kawan karib tak mampu beri apa-apa..kita keseorangan berteman amal didunia… Seterusnya ketika menghadapi hari berhisab, lamanya berdiri dengan panas dan sesaknya orang hanya Allah yang tahu. Bob Lokman pernah menangis bila berceramah, saya masih ingat dialog dia lebih kurang.. “saya rasa lama berdiri dipadang mahsyar”. Menanti berhisab, mencari insan bernama Muhammad, mengharap teduhan arasy. Siapakah yang diberi teduhan, 7 golongan yang dijanjikan…semoga kita tergolong.. Bagaimana pula nak berhisab, sedangkan keadaan dosa masa tu banyakknya Allah saja tahu..kita mengharapkan kemaafan dari Allah..Ada doa yang kita ungkapkan selepas solat..berilah kemaafan ketika berhisab..anggota berbicara, mulut terkunci seribu bahasa.. Seterusnya melangkah ke titian antara dua, jauh, panjang, kecil, banyak checkpoint,,apakah kita terbang? Mengengsot? Merangkak? Wallahua’lam Kita hanya ada dua tempat perhentian, syurga yang penuh kenikmatan atau neraka penuh azab dan keperitan.
WAHAI JIWA YANG TENANG KEMBALILAH KEPADA ALLAH, BAGAIMANA HATI MAMPU BERGEMBIRA KETIKA MAUT MENGEJAR KITA..
BUAT DIRIKU INSAN BERDOSA DAN KALIAN YANG SUDI MEMBACA. SEMOGA KITA SAMA2 DIBERI KEKUATAN ISTIQAMAH SEHINGGA BERTEMU ALLAH
Tersenyumlah wahai diri...
Bila sekarang kau sedang di uji
Sesungguhnya itu tanda cinta Sang Illahi
Tersenyumlah wahai diri
Bila sekarang hatimu sedang merasakan sakit
Sesungguhnya Allah sedang mengajarimu
Membersihkan jiwamu, menguatkan iman mu
Tersenyumlah wahai diri
Meskipun sebenarnya kau sedang menagis
Air matamu terlalu berharga untuk kau tampakkan pada manusia
Tersenyumlah wahai diri
Tunjukan pada dunia
Bahwa kau adalah wanita yang kuat dan tegar, setegar siti mariyam
Wanita sholeha yang mampu menjaga kehormatan dan kesuciannya
Tersenyumlah wahai diri
Akan nikmat Allah SWT kepadamu yang tak ada bandingannya
Karna ia telah memilihmu, diantara hamba hambaNya
Menjadikanmu bercahaya di saat kegelapan menjelma
Tersenyumlah wahai diri
Gunakan cahayamu itu, untuk menerangi sekelilingmu
Jadikan cahyamu berguna, agar kau semakin di sayang olehNya
Tersenyumlah wahai diri
Bila cinta dunia tak bisa kau penuhi
Berdoalah pada Rabmu, agar meneguhkan imanmu
Agar dunia ini tak melenakanmu
Mari tersenyum wahai diri...
Lihatlah Allah telah kirimkan tujuh rupa warna pelangi
Kini sedang hiasi langitmu, yang lama tertutup awan kelabu
Walau hanya sesaat, namun bisa jadi pengobat
Akan rasamu yang lama berkarat...
Mari...
Kita bersama..tersenyum...tertawa..
Menyambut pagi dengan suka cita
Bersukur karna kita
Masih bisa mengeja kata dalam aksara yang tertanam dijiwa...
Bila jiwamu bersih, hati mu bersih
Sekencang apapun badai prahara yg menerpamu
Tak akan sanggup menggoyahkan imanmu..
Walhamdulillah
Wa syukurilla...

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
Ketika ungkapan “sabar, di peruntukkan bagi orang lain,
begitu pandainya lidah menyusun kata dan ungkapan agar menjadi penyejuk dan motivasi ,
betapa mudah menguraikan ungkapan tersebut betapa mudah beretorika dari sebuah ungkapan sederhana.
Namun ketika ungkapan tersebut terwujud dalam realita kehidupan kita sendiri, di mana saat Sang pemilik vokalis lagu kehidupan, menjadikan “duka, sebagai nyanyian sejenak hayat kita, sementara alur bait serta liriknya mengalir deras bagikan air, melewati , menerjang hingga melampaui logika nalar manusia.
Maka saat itulah manifestasi ungkapan “bersabarlah, jauh lebih berat dari sebuah retorika.
Maha Suci Engkau ya Allah !... betapa besar pahala orang yang bersabar, hingga di sandingkan bersama Allah, karena inti sabar ialah menerima dengan ikhlas kehendak-Nya yang bersebrangan dengan harapan seorang hamba.

Seorang istri menangis hendak memandikan jenazah suaminya. sambil menangis sang istri berkata kepada bapak mertuanya; ‘‘Ini janji kami suami istri, Jika abang meninggal dulu dari kamu (istri) mandikanlah jenazah abang, Andai kamu (istri) meninggal dulu dari abang, abang akan yang mandikan jenazah kamu...!!!’’
Dari luar kamar mayat rumah sakit seorang ustadz masuk dan berkata; ‘‘
Tidak apa-apa kalau istrinya hendak memandikan jenazah suaminya...!!!’’
Ustadz tadi bersama beberapa orang lagi keluarga sang istri memandikan jenazah suaminya.
Dengan tenang si istri membasuh muka jasad suaminya sambil berdo'a dan berkata; ‘‘Inilah wajah suami yang ku sayangi, tetapi ALLAH Subhanahu WaTa'ala lebih sayang ke abang... Semoga ALLAH mengampuni dosa abang dan menyatukan kita di akhirat nanti...!!!’’
Sang istri kemudian membasuh tangan jenazah suaminya sambil berkata; ‘‘Tangan inilah yang mencari rezeki yang halal untuk kami, masuk ke mulut kami. Semoga ALLAH Subhanahu WaTa'ala memberi pahala untuk suami ku...!!!’’
Sang istri membasuh tubuh jenazah suaminya sambil berkata; ‘‘Tubuh inilah yang memberi pelukan kasih sayang padaku dan anak², semoga ALLAH Subhanahu WaTa'ala memberi pahala berganda untukmu wahai suamiku...!!!’’
Kemudian sang istri membasuh kaki jenazah suaminya sambil berkata; ‘‘Dengan kaki ini abang keluar mencari rezeki untuk kami, berjalan dan berdiri sepanjang hari semata² untuk mencari sesuap nasi, terima kasih abang... Semoga ALLAH Subhanahu WaTa'ala memberi abang kenikmatan hidup di akhirat dan pahala yang berlipat ganda...!!!’’
Selesai memandikan jenazah suaminya, sang istri mengecup sayu kening suaminya dan berkata; ‘‘Terima kasih abang karena aku bahagia sepanjang menjadi istrimu dan terlalu bahagia dan terima kasih karena meninggalkan aku bersama permata hatimu yang persis dirimu dan aku sebagai seorang istri redha akan kepergianmu karna kasih sayang ALLAH Subhanahu WaTa'ala pada mu...!!!’’ Subhanallah...
Betapa sucinya hati seorang isteri pada suaminya.

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kebahagiaan akan disadari oleh manusia, ketika ia mulai pergi …
“Horee ayah beli mobil baru, hore ayah beli mobil baru, horee …..” teriak Dina, bocah kecil berusia lima tahun itu berjingkrak-jingkrak kegirangan, kemudian ia melompat-lompat dan berlarian mengitari sebuah mobil tipe baru berwarna silver mengkilap yang terparkir di carport depan rumah yang cukup luas itu.
Sekali-kali ia memeluk mobil itu seperti memeluk boneka mainannya. Sementara sang istri duduk di depan kemudi mencoba menghidupkan dan mematikan mesin mobil itu sambil memperhatikan semua interior mobil dengan seksama, takut ada cacat sedikitpun barang yang ia terima, mumpung sang pengantar mobil masih ada di sini, menyerahkan tanda terima barang plus semua asesories mobil kepadanya.
Ya, hari itu sang suami berhasil memenuhi keinginannya untuk memiliki mobil sendiri, memang bukan mobil mewah tapi cukup bergengsi untuk dimiliki oleh pasangan muda seperti dirinya, mobil sedan toyota Vios tipe G, seharga dua ratus jutaan rupiah.
Rani, sang istri merasa bahagia sekali, sebab keinginannya untuk pergi bekerja membawa mobil sendiri terkabulkan sementara sang suami hanya tersenyum kecut mengingat cicilan yang akan dibayarnya beberapa bulan kedepan.
Sebenarnya Hadi, sang suami enggan untuk membeli mobil itu pada tahun-tahun ini, mengingat kebutuhan dan penghasilannya masih belum cukup untuk menyicil mobil baru, belum lagi ia harus mencicil rumah baru yang cukup luas yang dibelinya dua tahun lalu.
Tapi kecintaannya pada sang istri membuatnya mengambil keputusan itu, apapun resikonya. Ia memang sudah berjanji kepada istrinya tentang dua hal jika ingin menikahinya, rumah luas dan mobil dan janji itu sudah lunas ia tunaikan, meski ia harus menelan ludah dalam-dalam.
Hadi bersandar disamping pintu rumah, dari kejauhan matanya berbinar menatap kegembiraan anak dan istrinya, sesekali ia menarik nafas dan mendesah dalam-dalam, ia berusaha tersenyum saat istrinya melambai meminta komentar dirinya tentang mobil itu.
Senyum yang berat yang harus ia kulum, seberat janjinya kepada sang istri, seberat beban kehidupan rumahtangga yang ia tanggung sendiri.
Pikiran Hadi menerawang kembali ke masa silam, masa dimana ia bertemu dengan Rani, seorang gadis pujaan para mahasiswa kampusnya, yang ia sendiri tidak mengerti mengapa ia nekat memperistri sang primadona itu.
Perkenalan Rani dan Hadi terjadi ketika mereka sama-sama kuliah di jurusan dan fakultas yang sama di universitas terkenal di jakarta, keduanya pun melalui jalur masuk mahasiswa baru yang sama yakni PMDK.
Rani yang pintar dan cantik menjadi idola di kampusnya dan Hadi termasuk salah satu penggemarnya, meski hanya dalam hati. Bagi Hadi, mengingat Rani pada masa lalu, seperti mengingat sejarah masa silam yang tak mungkin bisa kembali, Rani yang dulu dikenal selama masa kuliah ternyata telah banyak berubah apalagi setelah lulus kuliah dan bekerja pada bank swasta nasional.
Dulu semasa kuliah Rani dikenal sebagai gadis bersahaja, tidak glamour dan tidak neko-neko. Ia supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Meski banyak pria yang jatuh cinta padanya, tapi tak satupun yang ia tanggapi, alasannya, ia tidak mau kisah cinta mengganggu kuliahnya, semua dianggap teman biasa saja.
Sikap Rani yang acuh terhadap asmara memang dilatar belakangi oleh kehidupan keluarganya yang amat sederhana bahkan bisa dibilang miskin sama seperti latar belakang dirinya, untuk itu Rani berniat kepada dirinya sendiri untuk tetap fokus pada kuliah dan karir, agar ia bisa menaikan taraf hidup keluarganya, bagi Rani kemiskinan harus menghilang dari kamus hidupnya, apapun caranya itu.
Karena sikap Rani yang cuek dan acuh itu, akhirnya banyak para pemuda yang mundur, hanya Hadi yang terus memantau, meski hanya dari jarak jauh.
Selepas kuliah dan telah mendapatkan pekerjaan tetap, Hadi memberanikan diri untuk mengkhitbah Rani, tapi Rani menolaknya, karena ia menginginkan cowok yang sudah mapan, bahkan tanpa tedeng aling-aling ia mengatakan bahwa calon suaminya harus sudah mempunyai rumah luas dan bermobil pula.
Akhirnya ia hanya minta waktu kepada Rani untuk mewujudkan semua itu dalam waktu tiga tahun. Tetapi Rani tetap enggan, hingga akhirnya Rani memilih calon lain yang sudah mapan, yakni seorang PNS pada departemen keuangan. Jadilah Hadi sedih bukan kepalang, ia hanya bisa meratapi nasibnya yang miskin dan papa.
Cinta yang disimpannya di sudut hati dan dirawatnya hingga mekar selama lima setengah tahun, kini layu bagai disiram air panas, menyisakan pedih dan perih, merontokkan mimpinya dan mengubur dalam-dalam angan dan khayalnya.
Perjuangan mempertahankan rasa cinta harus berakhir sebelum ia sanggup menahan beban kekalahan, sebelum ia sanggup menahan kekecewaan bahwa rencananya tidak semulus yang ia inginkan. Angannya yang terlalu tinggi ingin menikahi gadis pujaan membawanya terbang kealam mimpi yang menyakitkan.
Padahal, ia merasa yakin, kehidupan asmaranya akan diridhai Allah, karena ia tidak pernah melakukan perbuatan melanggar batas pergaulan lawan jenis, boro-boro bersentuhan tangan, menatap wajah perempuan saja ia tidak sanggup, apalagi berpacaran layaknya anak muda jaman sekarang. Haram, itulah yang terpatri dalam hatinya.
Semenjak ditolak Rani, Hadi mulai memperbaiki ibadahnya, mungkin kemarin ia merasa Allah belum berkenan memberikan rezeki kepadanya karena ibadahnya belum maksimal dan keikhlasannya belum terbukti, selama ini ia beribadah agar Allah mengijinkan ia menikah dengan Rani, begitu selalu doa yang ia panjatkan dalam setiap kesempatan, tapi kini hatinya mulai sadar, keikhlasan dirinya mulai menggumpal.
Ia tak lagi beribadah karena mengharapkan balasan, tapi semata-mata lilahi taala. Kini hatinya lebih tenang dan jiwanya lebih damai, ia pasrahkan jodohnya ke ilahi robbi, siapapun itu.
Dalam kepasrahan dan keikhlasan, Tuhan selalu mendengar doa hamba-hambanya, enam bulan setelah ia ditolak Rani, ternyata calon suaminya membatalkan pernikahan dengan Rani, tanpa alasan yang jelas, rumor yang ia dengar sang calon lebih memilih sekolah lagi di luar negeri atas biaya dinas dan dilarang menikah dahulu tanpa seijin atasannya.
Perasaan Hadi bingung mendengar kabar itu, apakah harus sedih atau gembira. Yang jelas, mendengar kabar itu menggumpalkan kembali butiran-butiran semangatnya yang sempat hancur berkeping-keping, merajutkan kembali remah-remah asmaranya kepada sang pujaan hati.
Esoknya, ia kembali mendatangi kediaman Rani dan bertemu dengan orangtuanya untuk melamar Rani. Orangtua Rani yang merasa malu atas pembatalan nikah sebelumnya, langsung menyetujuinnya, sedang Rani, meskipun setuju, ia masih tetap dengan syaratnya itu, yakni rumah cukup luas dan mobil, meski akhirnya bisa ia sanggupi enam tahun kemudian setelah pernikahan mereka.
Kini dengan hadirnya mobil sedan di garasi rumah itu, semua syarat istrinya telah ia penuhi, hatinya sangat bahagia meski semua itu ia penuhi dengan tetesan keringat dan darah, dengan luka dan airmata, dengan tebal muka dan pinggang patah-patah.
Bagaimana tidak, ia di-deadline oleh istrinya harus mengumpulkan uang ratusan juta dalam waktu lima tahun untuk mewujudkan semua itu. Ia terpaksa bekerja bagai mesin, pagi sampai malam, belum lagi mencari tambahan pada hari libur.
Kadang ia harus menebalkan muka untuk mencari hutangan untuk menutupi DP pembelian kedua asset itu yang nilainya pun tidak sedikit. Kadang harus bekerja sampai larut malam mencari sambilan mengerjakan proyek kecil-kecilan.
Pada tahun-tahun pertama ia tak perduli, tapi menginjak tahun keempat, ia mulai tidak kuat, semua energinya sudah terkuras habis, tapi hasil yang didapat belum seberapa. Nasib baik masih belum berpihak kepadanya.
Di saat gundah gulana seperti itu, pada saat keheningan malam memeluk erat sang waktu, bersamaan dengan saat Hadi pulang bekerja, Hadi hanya bisa duduk mematung di teras rumah, tak tega membangunkan istrinya yang telah lelap tertidur bersama sang bocah.
Sejumput kemudian ia melangkah menuju keran di pinggir carport dan mengambil wudhu untuk menghilangan kelelahan jiwa dan raganya, lalu ia sholat dua rakaat di teras rumah dan meneruskan dengan tangisan penuh harap kepada sang pencipta sampai ia tertidur di sajadahnya, begitu seterusnya yang ia lakukan setiap malam sampai azan subuh terdengar dan udara dingin menusuk-nusuk tulangnya, membangunkan dirinya yang terlelap di beranda rumah.
Barulah kemudian ia membangunkan istrinya untuk menyiapkan sarapan pagi dan bersiap berangkat lagi, sang istri, hanya mengetahui bahwa suaminya pulang pagi karena sibuk mencari nafkah.
Demi cintanya pada sang istri, Hadi terpaksa bekerja siang malam tanpa henti, demi sebuah janji yang harus ditunaikan, ia relakan dirinya bersakit-sakitan, demi keutuhan keluarganya yang ia banggakan, terpaksa ia gadaikan separuh nafasnya demi kebahagiaan orang yang sangat dicintainya itu. Ia lakukan semuanya itu dengan ikhlas, demi sang bidadari pujaan hatinya.
Kehidupan mengalir mengikuti lekuk-lekuk sungai waktu, hanyut bersama cita-cita, mimpi dan angan-angan manusia. Dengan bermodalkan sebongkah harapan, bekal keimanan dan jala asa, mereka mengayuh bahtera rumah tangga menyelusuri sungai kehidupan itu, seraya berharap tiba ditujuan dengan selamat. Tapi takdir Allah jualah yang menentukan roda kehidupan mereka, tanpa seorang manusiapun yang sanggup mengetahuinya.
Karena bekerja terlalu keras, Hadi jatuh sakit, ia terserang lever akut, dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Dokter yang merawatnya hanya menyarankan agar ia mengikhlaskan semuanya, supaya penyakitnya tidak bertambah parah, ia paham apa maksud pernyataan dokter, sebab dokter tidak akan membohongi pasiennya yang tidak sanggup ia tangani.
Dalam lirih suara, hadi memanggil istrinya, yang tampak begitu terpukul akan kondisi hadi, ia hanya bisa menangis sesenggukan.
“Rani sayangku” panggilnya, “ya sayang aku di sini di sampingmu..” jawab Rani, “dari hati yang paling dalam aku sangat mencintai kamu, aku sangat menyayangi kamu”, Hadi berbisik lemah, “ya sayangku aku tahu itu, cintamu padaku tak pernah aku ragukan” Hibur Rani, “izinkan aku bicara sebentar saja, aku khawatir jika aku menundanya aku tak bisa lagi berbicara denganmu.”
Kemudian, Hadi berkata dengan perkataan yang membuat tubuh Rani semakin tak berdaya, ia hampir kehilangan keseimbangan, tapi berusaha untuk mendengar lantunan suara suaminya yang semakin lirih,
“Sayangku Rani, sejak pertama kali kita berjumpa, aku sudah menyisakan ruang kosong di sudut hatiku untuk dirimu, aku jaga jangan sampai ia terisi oleh yang lain, dan aku simpan rapat-rapat sampai aku yakin bahwa aku siap untuk melamar dirimu. Keyakinanku atas dirimu begitu kuat, kesabaranku menantimu begitu dalam, meski di tengah jalan aku sempat terluka karena rupanya aku hanya bertepuk sebelah tangan.”
Hadi berhenti sejenak, ia memperhatikan kelopak mata istrinya yang makin penuh dengan airmata, airmata penyesalan karena pernah menolak manusia yang begitu sabar dan telaten menyayanginya.
Hadi meneruskan ucapannya, “Tapi sayangku, ternyata Allah sangat sayang kepadaku, ia mengembalikanmu kepadaku diriku lagi, bahkan menjadikan dirimu belahan jiwaku hingga engkau bisa menemaniku di sini, di saat-terakhirku ini, sayangku, hanya satu permintaanku, aku ingin engkau menjadi bidadariku di dunia dan akhirat, meski aku tahu, setelah kepergianku, engkau bebas memilih kembali pangeranmu, memilih orang yang akan mendampingimu meneruskan sisa-sisa hidupmu.”
“Sayangku, tapi aku sudah sangat puas atas nikmat yang Allah berikan kepadaku selama ini, selama aku menjadi suamimu. Memilikimu merupakan anugerah terbesar dalam hidupku, maka demi menghargai anugrah itu akupun melakukan apapun demi kebahagiaanmu. Jika Allah berkehendak lain, percayalah itu sudah menjadi takdir antara kita dan aku tak pernah menyesal menikahimu.”
“Sayangku ketika lidah ini masih bisa berucap, maka aku berucap kepadamu, maafkanlah atas kesalahanku selama ini, maafkan aku yang memaksamu menjadi belahan jiwaku, meski aku tak bisa memenuhi harapan-harapanmu. Jangan kau sesali pernikahan kita, sebab aku bangga dengan apa yang telah kita lakukan bersama, jaga dan rawatlah baik-baik anak kita, sampaikan salam kepadanya bahwa ayah hanya pergi sebentar, menunggu kalian dipintu surgaNya nanti.”
Rani tak kuasa mendengar kelanjutan lirihan suara suaminya, rasa bersalah menusuk hatinya dalam-dalam, ia terlalu egois, ia terlalu naif, memaksakan beban kehidupan dirinya ditanggung suaminya sendiri, ia yang trauma terhadap kemiskinan, memaksakan kompensasinya ke orang yang begitu baik kepadanya, yang begitu sayang kepadanya, ia begitu otoriter.
Sebelum habis Hadi bicara, Rani sudah tak ingat apa-apa lagi, rasa sesal yang dalam ditambah rasa takut kehilangan membuat syaraf kesadarannya terlepas perlahan, ia pingsan di samping tubuh suaminya, yang makin lama suaranya makin tak terdengar, hanya suara “maafkan aku sayang, maafkan aku…, maafkan aku sayang…” yang muncul bergantian dengan kalimat tasbih, tahlil dan tahmid.
Terus berucap hingga hembusan nafas berhenti, dan jantung tak lagi berdetak. Hanya airmata terlihat mengalir dari kelopak mata sang suami, meski bibir tersenyum puas karena sudah memberikan yang terbaik untuk orang yang paling disayanginya.
Hampir dua jam Rani pingsan di sisi suaminya, yang kini telah menjadi jenazah. Saat ia terbangun, Rani belum menyadari, ia terus menangis seraya memohon maaf kepada suaminya atas sikapnya selama ini, sampai kedatangan dokter yang menyadarkan Rani bahwa suaminya telah pergi untuk selama-lamanya.
Nasi telah menjadi bubur, tetapi pintu maaf dari sang pencipta masih terbuka lebar. Rani yang telah menyadari bahwa kebahagiaan bukan hanya kekayaan, dan kemiskinan bukanlah suatu aib, kini perlahan mulai meluruskan jalan hidupnya, dan ia bertekad akan merawat anak semata wayangnya sendiri.
Empat puluh tahun kemudian di sebuah pusara yang masih basah, seorang wanita berjilbab masih tercenung di hadapan makam ibunya, perempuan itu, Dina, masih mendoakan ibu dan ayahnya agar dipertemukan kembali di surga.
Ia adalah harapan orangtuanya yang tersisa, yang melempangkan jalan pertemuan mereka kembali sebagai pasangan abadi, doa dari anak yang shaleh, yang menjadi pelipur lara kedua orang tuanya.
“Ya Allah ya Rabbi, ampuni kedua orang tua kami, dan kabulkan permintaan ibu yang sering ia ceritakan kepadaku, melanjutkan mendampingi ayah kami di surgaMu, dan jadikanlah ia bidadari ayahku, aamiin.”
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya
Saudaraku….
Allah Yang Maha Mulia, Maha Halus dan Maha Penyayang pada hamba-hamba-Nya yang selalu bersabar atas takdir, terutama takdir yang tidak berkenan yang menimpanya, tidak mencela akan tetapi ridha dengan mengharap pahalanya dari-Nya. Kepada mereka Allah nyatakan “Sesungguhnya Allah selalu menyertai orang-orang yang bersabar”.
Berikut ini ada sebuah kisah yang sangat mengharukan mengenai seorang istri yang sabar atas segala ujian yang menimpanya selama 15 tahun, kemudian atas kesabarannya tersebut, Allah memberi rizki dan kasih sayangnya yang tak terkira. Kisah ini adalah kisah nyata yang saya terjemahkan dari buku Qishasasu Muatsirat Lilfatayat karya Ahmad salim Badwilan. Kisah ini terjadi di Timur Tengah akan tetapi tidak disebutkan lokasi tepatnya. Saya hadiahkan terjemahan ini kepada seluruh istri mukminah yang sabar.
Tatkala malam-malam pengantin menjadi mimpi bagi para pemuda yang tengah memuncak birahinya, tatkala pernikahan hanya menjadi puncak tujuan untuk menyalurkan apa yang diinginkan oleh para pemuda, bahkan sebagian pemuda yang sedang ‘kepanasan’ mencari penyaluran dengan berbagai upaya. Berlari mencari tempat pelampiasan hawa nafsunya, sampaipun melakukannya diluar kaedah-kaedah dinul Islam. Entah itu dengan menggapai kesenangan yang haram, asyik khalwat bertelpon, kholwat ditempat sunyi atau via internet.
Namun disana, ada seorang akhwat yang sangat menjaga diri yang tidak pernah sekalipun melihat laki-laki sepanjang hidupnya kecuali mahramnya. Dia adalah akhwat yang hari ini hampir mustahil bisa menikah tanpa melalui proses pacaran yang lazim dilakukan para calon pasangan masa kini. Ini merupakan nikmat dan Allah akan memberikan rizki baginya seorang laki-laki shalih yang akan mengokohkan agamanya sepanjang usia.
Disinilah kisah itu bermula….
Seorang akhwat muslimah yang sangat menjaga diri,menutup wajahnya,berpegang teguh pada agamanya dan mulia akhlaknya. Kemudian Allah dengan pemeliharaan-Nya serta takdir-Nya memberinya rizki seorang suami muslim tanpa sedikitpun membuka penutup wajah, tangan dan bagian-bagian tubuh lainnya tidak sebagaimana yang lazim dilakukan para pemudi hari ini. Para pemudi hari ini sebagian mereka akan bersepi-sepi berpacaran, berbicara dengan suara keras, tersenyum dan tertawa dihadapan para lelaki tanpa malu hanya untuk memperoleh jodoh.
Maka, tibalah waktu malam pengantin bersama tuntunan Islam yang indah. Kedua pengantin bergegas memasuki kediamannya. Sang istri lalu menyiapkan hidangan pembuka dan berkumpul mesra diruang makan.
Tiba-tiba, keduanya mendengar suara ketukan pintu. Sang suami menghentak dan berkata gusar, “Siapa tamu yang mengganggu ini?”
Berdirilah istri menuju pintu lalu bertanya dari balik pintu, “Siapa?”.
Terdengar jawaban, “Saya adalah pengemis yang meminta sedikit makanan”.
Si istri kemudian menyampaikan kepada suaminya, “Dia pengemis meminta sedikit makanan”.
Marah si suami sembari berkata, “Hanya gara-gara pengemis ini istirahat kita terganggu apalagi kita sedang menikmati malam pertama?”.
Si suami bergegas keluar dan langsung menghantam pengemis itu secara bertubi-tubi. Sesat kemudian, terdengar rintihan dan ringisan.
Si pengemis berlalu membawa rasa lapar dan luka yang memenuhi ruh, jasad dan kehormatannya.
Si suami kembali menemui istrinya di dalam kamar pengantin dengan hati yang penuh emosi karena gangguan yang terjadi barusan.
Sejurus kemudian, si suami terkena sesuatu menyerupai penyakit kesurupan, lalu dia merasa dunia menyempit dan menghimpitnya dengan keras. Lalu dia berlari keluar rumah dengan menjerit, meninggalkan istrinya yang ketakutan, namun itulah kehendak Allah.
Sang istri bersabar dan mengharapkan pahalanya di sisi Allah ta’ala, tak terasa lima belas tahun telah berlalu.
Setelah lima belas tahun dari peristiwa itu, seorang muslim datang meminangnya, dia menerima dan berlangsunglah pernikahan.
Pada malam pertama, suami istri tersebut berkumpul didepan hidangan pembuka yang telah disajikan. Tiba-tiba keduanya mendengar suara ketukan pintu. Berkata suami kepada istrinya, “Pergilah bukakan pintu”.
Si istri menuju pintu dan bertanya, “Siapa?”.
“Pengemis meminta sesuap nasi”, kata tamu tersebut.
Si istri menemui suaminya yang langsung menanyakan siapa tamu. Si istri berkata, “Pengemis meminta sesuap nasi”.
Maka si suami berkata, “Panggil dia kemari dan siapkan seluruh makanan ini diruang tamu lalu persilahkan dia makan sampai kenyang”.
Si istri bergegas menyiapkan hidangan, membukakan pintu lalu mempersilahkan pengemis itu untuk makan.
Si istri kembali menemui suaminya dengan menangis. Suaminya bertanya, “Ada apa denganmu?, Kenapa kamu menangis?, Apa yang terjadi?, Apakah pengemis itu menghinamu?”
Si istri menjawab dengan linangan air mata yang memenuhi matanya, “Tidak”.
“Dia mengganggumu?”, tanya suami.
“Tidak”, jawabnya.
“Dia menyakitimu?”, tanya suami.
“Tidak”, jawabnya.
“Lalu kenapa engkau menangis?”, tanya suami.
Si istri berkata, “Pengemis yang duduk di ruang tamumu dan menyantap hidanganmu adalah mantan suamiku lima belas tahun yang lalu. Pada malam penganti itu, ada pengemis datang dan suamiku memukulinya dengan keras. Setelah itu mantan suamiku kembali menemuiku dengan dada yang sempit. Aku menyangkanya dia terkena jin atau kesurupan. Dia lari meninggalkan rumah tanpa ada kabar sampai malam ini….Ternyata dia menjadi pengemis.”
Si suami tiba-tiba menangis….
Istrinya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
“Taukah kamu siapa pengemis yang dipukul oleh mantan suamimu dulu?”, kata suami.
“Siapa dia?”, tanya sang istri.
“Sesungguhnya pengemis itu, aku….”, suaminya menjelaskan.
Maha Suci Allah yang Maha Perkasa Maha Membalaskan, yang telah membalas seorang hamba-Nya yang faqir lagi miskin, yang datang dengan menundukkan kepalanya mengemis kepada manusia demi sesuap nasi untuk mengganjal rasa lapar dan dahaga. Rasa itu telah berlipat sakitnya dengan luka penzhaliman pada diri dan kehormatannya.
Sesungguhnya Allah tidak meridhai kelaliman, maka Allah menurunkan hukuman bagi siapa saja yang menghinakan hamba yang terzhalimi. Cukuplah bagi dia untuk bersabar atas ujian yang menimpa sampai Allah memberinya rizki yang berlimpah dan mengkayakannya dihadapan manusia. Kemudian Allah ganti menguji kepada lelaki yang zhalim, maka Allah mencabut seluruh kekayaannya dan jadilah dia pengemis nestapa.
Maha Suci Allah Yang Maha Mulia, yang telah memberi rizki seorang ibu mukminah yang selalu bersabar atas ujian Allah – selama lima belas tahun -, maka Allah menggantinya dengan suami yang jauh lebih baik dari pada mantan suaminya dulu
Semoga menguatkan kesabaran, keyakinan akan janji kasih sayang dari Yang Maha Penyanyang
Kenapa Harus Wanita Sholehah?
Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka?
Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..
Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..
Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka?
Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.. Bagaimana mereka bisa berbaur…
Aku menjawab.. Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka.. Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..
Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka?
Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?
Aku menjawab..
Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.
Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..
Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..
Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..
Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?
Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?
Aku menjawab..
Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.
Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?
Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.
Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka?
Pada akhirnya, akupun menjawab…
Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang shalih seperti mereka..
Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…
Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga yang turun ke dunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk memberikan kepadamu yang tak berarti di mata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni surga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.
Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas Islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki shalih penghulu surga…
Seberat itukah?
Ya… Takkan mudah.. sebab surga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan…
Umurmu semakin lama semakin bertambah..
Tubuhmu sudah tak lincah seperti dulu..
Jarak pandang matamu mulai berkurang..
Dirimu sangat mudah penat dan lelah ketika beraktivitas..
Kerutan diwajahmu mulai terlihat jelas..
Tidakkah engkau tahu..
Bahwa itu pertanda.
Pertanda bahwa usia hidupmu didunia sudah berkurang?
Wahai diri..
Apa yang telah kau persiapkan .?
Apa yang amal yang telah kau lakukan untuk bekal dikehidupan nanti?
Mengapa engkau terlalu sibuk mencari
dunia..
Hingga amal untuk kehidupan nanti kau
abaikan?
Hingga dosa-dosa lebih kau sukai daripada
amal?
Astaghfirullahal azhim..
Wahai diri..
Ketika engkau bertaubat..
Tak lama kemudian kau berbuat dosa lagi..
Apa sudah benar taubat yang kamu
lakukan?
Apa engkau sudah sungguh-sungguh meminta ampun kepada Allah?
Jangan..!!
Jangan kau biarkan diri terjerumus lagi
kelubang dosa..
Jangan..!!
Jangan kau biarkan diri terperosok.. Tertatih-tatih menjadi budak hawa nafsu..
Astaghfirullahal azhim..
Wahai diri..
Berusahalah sekuat tenaga menjaga diri..
Mintalah selalu pertolongan Allah.
Bergaullah dengan orang-orang yang
sholeh..
Hadirilah bersama lingkungan yang membawamu dekat kepada Allah.
Wahai diri..
Engkau sering menyeru pada kebaikan
Engkau sering menulis dan berkata tentang
kebaikan..
Sudahkah engkau amalkan sendiri?
Sudahkah engkau melakukannya?
Apakah engkau hanya bisa berseru,tapi
sebenarnya palsu..
Astaghfirullahal azhim..
Wahai diri..
Jagalah niat dan keikhlasanmu dalam
beramal
Janganlah sombong dan merasa paling
benar Merasa paling suci..
Ingin dilihat orang..
Bukankah engkau dulu pernah hidup dalam
kehidupan yang gelap dan kelam
Hingga cahaya Tauhid menyinari
kehidupanmu?
Bukankah semua yang kau dapatkan saat ini atas pertolongan Allah?
Tak ada gunanya engkau berlaku sombong..
Astaghfirullahal azhim..
“Barangsiapa yang merasa sombong akan
dirinya atau angkuh dalam berjalan, dia
akan bertemu dengan Allah SWT dalam
keadaan Allah murka terhadapnya.” (HR. Ahmad)
Wahai diri..
Jangan merasa dirimu paling suci..
Tak ada orang yang luput dari kesalahan
dan dosa..
Sebaik apapun orang itu..
Secerah apapun hatinya..
Pasti ada debu yang selalu mengotorinya..
Walau nyaris tak kelihatan..
Walau ia tak sedar melakukannya..
Walau ia tak menghendakinya..
Pasti ada khilaf dan keburukan yang
dilakukannya..
Kita bukanlah Rasululullah yang terjaga dari dosa..
Kita adalah manusia biasa..
Yang tak pernah lepas dari khilaf..
Tapi juga jangan kita jadikan diri suka
untuk berbuat dosa..
Dan terus berbuat tanpa mau bertaubat..
Kita tetap harus berusaha menjauhi diri
dari dosa-dosa..
Perbanyaklah istighfar dimanapun kita
berada..
Astaghfirullahal azhim..
“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-
dosa besar dan perbuatan keji yang selain
dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm :32)”.
Wahai diri..
Janganlah suka merendahkan orang..
Boleh jadi ada orang lain yang kelihatan buruk dimata kita, Padahal ia menyimpan kebaikan yang sangat besar disisi-Nya
Boleh jadi ada orang yang tampak tidak memiliki keutamaan.. Padahal dimata Allah ia,lebih Mulia daripada kita.
Apabila ia meminta hujan,terus Allah
kabulkan..
Apabila ia meminta dijauhkan dari
bencana,Allah Ijabah doanya..
Apabila ia meminta karunia, Allah datangkan
Mereka inilah yang selalu menjaga
akhlaqnya..
Menjaga batinnya..
Menjaga Imannya Menjaga hubungan dengan Allah..
Sedangkan kita?
apakah kita termasuk orang yang Allah mudahkan?
Astaghfirullahal azhim..
“Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong),
dan janganlah berjalan dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang
yang angkuh dan menyombongkan diri.” (Al-Luqman: 18)
Wahai diri..
Diatas langit masih ada langit..
Begitu kita membanggakan diri sebagai
orang paling baik..
Paling suci..Paling Pintar..Paling Ikhlas
Atau sebagai orang yang paling menjaga akhlak
Atau paling bersungguh-sungguh menangisi
keburukan
Ketika itulah langit yang lebih tertinggi
tertutup untuk kita
Bahkan boleh jadi..
Kita sedang terjatuh dihadapan Allah
Tetapi kita terus merasa suci dan Mulia Na’udzubillah min dzalik..
Astaghfirullahal azhim..

Palingkanlah hatimu dari kekhawatiran yang sia-sia,
jauhkanlah telingamu dari gunjingan hasut,
pindahkanlah matamu dari pemandangan yang tidak mulia,
keluarkanlah dirimu dari pekerjaan dan pergaulan yang tidak jujur,
dan bersihkanlah jiwamu dari niat-niat yang tidak adil.
Itulah cara menghadapkan wajahmu kepada Tuhan.
Jiwa yang wajahnya menghadap Tuhan, hatinya didamaikan."
Ya Allah…
Kau telah menciptakanku dengan indah
Kau telah memberikanku kesempurnaan akal
Sehingga aku dapat melihat dan merasakan semua rahmat Mu
Serta karunia dari segala ciptaan Mu
Ya Allah...
Aku selalu bergetar jika mendengar nama Mu
Aku Takkan sanggup jika jauh dari Mu,
Karena itu menyengsarakan hatiku
Ya Allah...
Sering aku takut dengan azab Mu karena kelalaianku
Tapi entah kenapa aku sendiripun tak tahu
Kadang aku tergoda akan bujuk rayu nya
Yang menjauhkanku dari Mu
Ya Allah...
Setiap menjelang tidur ku selalu merasa takut
Takut tak punya waktu lagi untuk menyebutkan nama Mu
Apakah esok hari aku masih bisa mengagungkan nama Mu..
Maha suci Allah...
Yang telah membuka hatiku untuk bertaubat
Serta bermunajat kepada Mu
Setiap langkah yang kujejakkan di bumi
Hanya untuk menuju kepada Mu
Ketika itu nafas pun dapat berpisah dari raga
Hanya dengan ijin dan kekuasaanMu...
Ketakutan akan dosaku selalu muncul...
Akankah akhir nafas berlalu dan berakhir
Dengan khusnul khotimah
Bayangan kehidupan setelah alam dunia
Selalu datang saat menjelang terlelap
Saat itu roh tak bersatu dengan raga
Saat itu jiwa melayang di bawah alam sadar
Apakah roh ini akan kembali....Atau
Bahkan tak bersatu lagi ‘tuk selamanya....
Atau bahkan singgah di tempat yang indah dan mempesonakan
Betapa Engkau Maha Agung...
Betapa Engkau Maha Mulia...
Yang mengetahui segala kejadian yang bakal terjadi
Ya Rabb...
Andai ku bisa menatap Mu
Pasti takkan sanggup ku memandang Mu
Andai ku dapat melihat takdirku
Tentu ku tak kuasa ku ‘tuk menitikkan airmata
Begitu malu ku menatap dan bersua dengan Mu
Karena ku takut dengan azab Mu
Begitu hinanya diriku dihadapan Mu
Begitu banyaknya dosa yang t’lah kutanamkan di taman Mu
Begitu banyaknya benih kufur yang t’lah ke tebarkan di persada Mu
Ya Rabb...
Aku memohon kepada Mu
Aku bermunajat kepada Mu
Sucikanlah hatiku agar tak hina di mata Mu
Berilah aku hidayah agar tak berpaling dari nikmat Mu
Bimbinglah aku agar selalu mencintai Mu
Maha Suci Engkau Ya Allah...
Yang maha mengetahui segala yang tak ku tahu
Ketika malam menyelimuti langit yang kelam
Tampak gelap di setiap langkah dan jalan
Doapun tak henti berkumandang
agar hati tetap diterangi cahaya dan Cinta Mu
Pernah terbersit di hati ‘tuk menghilang dari peredaran Mu
Pernah terlintas di benak ‘tuk mengakhiri kisah
Tapi dengan cinta Mu bisa bertahan dan terus bertahan
Sampai saatnya nanti yang ditentukan tiba
Ooh...........
Betapa hampanya diri ini
Betapa letihnya jiwa ini
Betapa beratnya peluh yang mengalir dalam batin ini
Ya Rabb....................
Tak ada satu kuasapun yang dapat menolong
Tak ada satu bait katapun yang bisa menyejukkan hati
Serta tak ada setitik airpun yang sanggup menghilangkan dahaga
Juga tak ada seorangpun yang tulus menjawab semua firasat
Ya Rabb....................
Hanya Engkau yang dapat menolong kami
Hanya Engkau yang bisa membahagiakan hati kami
Dan hanya Engkau yang tulus menghapus kekhilafan kami
Wahai Rabb......
Cinta Mu selalu dalam pengharapanku
tapi sering pula terabaikan dalam ujubku
Nama dan sifat Mu selalu dalam penghayatanku
tapi sering pula terlupaku dan jauh dari Mu
Ya Rabb............
Semoga dalam sisa usia ini
selalu cinta pada Mu serta kekasih Mu
Semoga dalam setiap kata-kata ini
selalu Indah dengan bunga-bunga dzikrullah
dan Semoga selalu dalam keberkahan di dunia dan akhirat
Allahu Akbar.............Kau sungguh maha Pengampun
Subhanallahu............ Kau sungguh maha Penyayang
Ya Allah........Bimbinglah diri ini dalam ridho Mu...
Akhirilah kisah hidup ini dalam khusnul khotimah......
Amin........ Ya Rabbal ‘alamin......
Untuk mereka yang bersedih. Kalau hari ini
begitu memilukan, bukan berarti esok tak ada harapan. Kalau hari ini begitu
mengecewakan, bukan berarti besok tak mungkin ada kebahagiaan. Menjadi bahagia
adalah pilihan. Tak perlu menunggu keadaan untuk menjadi lebih baik, baru
memutuskan untuk bahagia.Bahagia itu ada: saat ini. Hari ini. Detik ini.
Doaku untukmu, semoga kau temukan bahagiamu hari ini. Dalam kondisi apa pun yang tengah kauhadapi.
teriring doa yang tulus bagi mereka yang menjerit kesakitan dan dipenuhi
ketakutan saat ini. Tuhan takkan biarkanmu sendiri.
Salam untuk semua saudaraku.
Semoga hari-harimu ada dalam rahmat Allah.
Semoga kau selalu berada dalam kasih sayang Allah.
Bersyukur atas nikmatNya dan bersabar dengan semua yang telah ditentukanNya.
Semoga hidupmu selalu bahagia.
Diberikan kemudahan dalam kesulitan yang kau rasakan.
Diberikan hiburan disaat kau bersedih.
Diberikan teman saat kau merasa kesepian.
Diberikan jiwa yang kuat hingga kau bisa tegap meski kau sendiri.
Saudaraku, semoga kita menjadi sahabat yang sejati.
Menjadi teman yang berada di dalam naungan Allah.
Atas rasa sayangku kepada seluruh saudaraku kupanjatkan doa ini.
Semoga kau selalu ada dalam Rahman Allah.
Mendapati asmaul husna dalam rumah hatimu.
Memancarkan cahaya bagai rembulan purnama di malam yang gelap.
Sungguh doa itu kupanjatkan untukmu wahai saudaraku.
Itulah kerinduan yang kuharapkan.
Sungguh aku merasakan kesulitan menggapainya.
Maka aku berdoa, semoga kau sahabat-saudaraku mudah mendapatkannya.
Karena aku sayang kepadamu.
Meski aku hanya bisa menunjukannya dalam sebentuk doa ini.
bukan cinta kalo ndak ada rasa cemburu...demikian juga bukan benar2 mencintai kalo kita tidak bisa menempatkan rasa cemburu....cinta yang paling tulus dan bisa di buktikan adalah bila engkau bisa mengendalikan cemburumu.....
Strategi Kendalikan Rasa Cemburu.................
Cemburu sering disebut-sebut sebagai "bumbu" dalam sebuah hubungan percintaan. Tapi, jika cemburu menjadi berlebihan maka akan mengancam hubungan Anda. Lalu bagaimana mengendalikan rasa cemburu ? Cemburu merupakan sikap negatif yang dapat merusak hubungan. Jika Anda termasuk wanita yang memiliki rasa "jealous" yang cukup besar kepada pasangan, segera atasi rasa cemburu Anda, untuk menyelamatkan hubungan.
apalagi bila kita tidak bisa mengendalikanya inilah caranya maengatsinya
1.Mengenali Kecemburuan
Langkah pertama yang harus Anda ambil adalah mengenali rasa cemburu Anda, kecemburuan yang terjadi dalam suatu hubungan merupakan rasa benci kepada orang yang dianggap saingan seksualnya. Rasa cemburu merupakan penggabungan rasa takut dan marah, rasa takut kehilangan pasangan yang dicintai dan kemarahan karena melihat pasangan deket pada wanita lain. Dibalik rasa takut dan marah ini, biasanya ada keinginan untuk mengontrol pasangan Anda.
Oleh sebab itu, sebelum mengambil respon yang berlebihan dari rasa cemburu Anda, sebaiknya kenali situasinya terlebih dahulu. Berpikirlah lebih objektif. Tanyakan pada diri sendiri, apakah ketika si dia pergi makan siang dengan rekan wanitanya memiliki alasan kuat untuk dicemburui atau ini hanya pemikiran negatif Anda.
Penyebab rasa cemburu yang berlebihan adalah kurangnya self-esteem. Semakin lama, jika Anda merasa rendah diri maka kecemburuan yang berlebihan mulai terlihat. Anda merasa setiap teman wanita si dia merupakan ancaman untuk Anda dan hubungan Anda. Padahal, belum tentu hal tersebut benar.
2.harus percaya diri bahwa kamu lebih baik dari orang yang kamu anggap saingan
3.Menyibukkan Diri
Waktu akan terasa sangat lama jika Anda tidak memiliki kesibukan. Hal ini juga yang membuat Anda merasa pasangan menjadi jarang menghubungi Anda karena Anda menunggu-nunggu kabar darinya. Ketika si dia tidak memberi kabar, pikiran negatif kerap timbul dan Anda menjadi berasumsi buruk tentangnya. Dengan memiliki banyak kegiatan, Anda dapat menghindari pikiran-pikiran negatif ketika si dia tidak bersama dengan Anda.
4.Bicarakan Dengan Pasangan
Komunikasikanlah dengan pasangan bahwa Anda seringkali merasa tidak nyaman. Bicarakanlah dengan santai dan carilah solusinya bersama-sama. Dengan mengutarakan perasaan Anda, siapa tahu pasangan menjadi lebih menjaga sikapnya dan si dia dapat mengerti Anda. Dengan catatan, Anda pun harus merubah sikap dengan berpikir lebih positif.
5.Hilangkan Prasangka Buruk
Coba hilangkan prasangka buruk pada pasangan. Mulailah dengan tidak memeriksa telepon atau akun social media-nya seperti Facebook dan Twitter. Yakinkah diri Anda bahwa Anda pantas dengannya. Ketika Anda berpikir positif, pikiran menjadi lebih jernih.
Pacaran dan cemburu seakan sebuah paket yang sudah tersistemasi dan tidak dapat dipisahkan. Intinya, jika Anda pacaran, Anda harus siap cemburu. Tapi sering juga rasa cemburu ini malah merusak hubungan pacaran. Mengapa bisa begitu? Jawabannya Adalah rasa cemburu yang terlalu berlebihan. Ketika Anda sedang dalam masa pacaran, rasa cemburu yang berlebihan akan menyebabkan insecurity, sehingga cenderung banyak pasangan adalah posesif atau berujung menjadi sebuah pertengkaran.
Anda harus sadar jika Anda sedang cemburu. Anda harus sadar apa yang menjadi penyebabnya. Jika Anda tidak sadar Anda tengah cemburu maka Anda akan terus menganggap Anda sedang normal-normal saja. Ingat, pacaran juga adalah tentang menyadari posisi diri anda sendiri.
Sekarang waktunya menelaah, apakah penyebab Anda cemburu layak untuk dijadikan bahan tumbuhnya rasa cemburu? Jika rasa cemburu muncul hanya karena pacar Anda yang sedang memilih untuk sibuk dengan keluarganya, maka itu tidak terlalu layak untuk dikategorikan cemburu.atau pacar anda adalah seorang publik figur
Saat Anda sedang cemburu, Anda biasanya akan terlihat kekanak-kanakan. Wajar, karena perasaan semacam ini selalu identik dengan anak kecil. Maka, jika ingin menunjukan rasa cemburu ini, tunjukkan dengan cara yang dewasa. liahatlah semua dari dua sisi belajarlah seperti pada saat engkau menggoreng TELOR ..jangan sampai gosong.( artikan sendiri )
Pengalihan rasa
Jika Anda merasakan rasa cemburu yang tengah anda alami terlalu berlebihan, maka sebaiknya tidak disarankan untuk langsung mengeksekusi rasa cemburu tersebut sesegera mungkin. Biarkan dulu mereda sampai Anda merasa santai. Sebaiknya alihkan rasa cemburu itu dengan main air soft gun atau main petak umpet he hehe...misalkan, atau mungkin curhat. Untuk curhat, saya sarankan Anda curhat pada orang-orang yang ahli tentang rasa cemburu.
Bagaimanapun caranya, demi pacaran yang Anda jalani menjadi pacaran yang sehat, Anda harus mengontrol rasa cemburu itu. Pacaran adalah tentang strategi agar tetap saling bersama, bukan? Ya, itulah mengapa anda perlu belajar tentang strategi pacaran.
Bagi para wanita, dalam hal ini saya lebih senang menyebutnya dengan perempuan, janganlah marah atau tersinggung dengan judul di atas, seakan-akan perempuan menjadi terasa didiskreditkan, mulai dari penghuni neraka terbanyak adalah perempuan, hingga yang menjadi sumber fitnahpun perempuan.
Saudariku, Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh semesta alam, termasuk rahmat bagi kaum perempuan. Islam datang untuk memuliakan kaum perempuan. Islamlah yang telah ‘menyelamatkan’ eksistensi kaum perempuan di muka bumi. Mari kita me-refresh mengingat kembali kondisi-kondisi perempuan pada zaman jahiliyyah dahulu.
Orang-orang jahiliyyah dahulu ada yang mengubur hidup-hidup anak perempuan yang baru saja lahir dari rahim Ibunya, seperti kisah Kholifah Umar bin Khottob —rodiallohu’anhu— sebelum beliau memeluk Islam.
Diceritakan bahwa lahirnya seorang anak perempuan dalam sebuah keluarga merupakan aib bagi keluarga, apalagi jika mereka memiliki kedudukan terhormat di masyarakat, oleh karena itu untuk menutup aibnya maka sang anak perempuan yang baru dilahirkan harus dibunuh.
Pada zaman Yunani Kuno, martabat perempuan sungguh lebih dilecehkan lagi, perempuan hanya dipandang sebagai pelepas nafsu seksual lelaki, beberapa filosof Yunani Kuno seperti Aristoteles menilai perempuan sederajat dengan hamba sahaya, sedangkan Plato menilai kehormatan lelaki ada pada kemampuannya memerintah, sedangkan kehormatan perempuan ada pada kemampuannya melakukan pekerjaan yang sederhana, hina sambil terdiam tanpa bicara. Perempuan zaman jahiliyyah juga tidak memiliki hak waris sedikitpun.
Dan masih banyak kondisi-kondisi mengenaskan lain yang dialami oleh perempuan sebelum Islam datang untuk menyelamatkan dan memuliakan kaum perempuan serta menyamakan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Di dalam pandangan Alloh orang yang paling mulia di sisiNya adalah orang yang paling bertakwa.
Dari paparan singkat di atas, sudah jelaslah bahwa Islam memuliakan, mengangkat eksistensi atau keberadaan kaum perempuan di masyarakat. Lalu kenapa perempuan bisa menjadi sumber fitnah ? Perempuan seperti apakah yang bisa menjadi sumber fitnah ? Ada juga yang menyebutkan bahwa para perempuan adalah pokok dari fitnah itu sendiri.
Kita sering mendengar nasihat berhati-hatilah dalam menjalani hidup ini, terutama terhadap tiga fitnah dunia yaitu harta, tahta dan wanita. Bahkan salah satu band musik papan atas di Indonesia mendendangkan lagu dalam syairnya menyatakan bahwa wanita adalah racun dunia.
Jika mau melihat kembali sejarah, sudah banyak kisah para pemangku kekuasaan di masanya yang jatuh tersungkur karena salah satu atau ketiga futnah di atas. Salah satu contohnya adalah pada era kepemimpian Bill Clinton, presiden Amerika yang mana akhir reputasinya yang ‘cemerlang’ jatuh di tangan seorang perempuan yang bernama Monica Lewinsky, seorang pegawai perempuan magang di gedung putih.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita. (HR. Muttafaq ‘alaihi)
Sungguh, fitnah perempuan termasuk cobaan terbesar yang berbahaya bagi kaum laki-laki. Karena perempuan, seorang suami bisa melakukan korupsi dan merugikan negara hingga trilyunan, karena perempuan seorang suami bisa terpisah dari istri dan anaknya, karena perempuan pula dua orang laki-laki berkelahi hingga tertumpah darahnya, dan karena perempuan si cerdas dapat hilang dengan sekejap kecerdasannya kemudian berubah menjadi layaknya seorang robot yang siap dan bisa dengan mudah diperintah oleh tuannya yang bernama perempuan.
Seorang perempuan bisa menjadi sumber fitnah diawali dari tampilan-tampilan fisiknya, seperti baju yang dikenakan teramat ‘menantang’ atau memakai parfum yang sangat menggoda.
Mungkin akan ada sebagian perempuan yang bilang bahwa itu salah laki-lakinya saja, kenapa bisa (maaf) nafsu. Astaghfirullah, tidak ada akibat tanpa ada sebab, tidak ada asap tanpa ada api, jadi marilah saling introspeksi diri.
Fitrah manusia ingin diperhatikan, terlebih kepada kaum hawa, tapi seperti layaknya pakaian, pakaian yang diobral dengan yang ditaruh di rak khusus tentu akan berbeda harga, makanan yang dipajang di pinggir jalan dengan yang dibungkus dan disimpan di etalase tentu akan sangat jauh beda rasa, harga serta kebersihannya.
Jadi marilah kita sama-sama menjaga diri, menjaga harga diri serta kemuliaan kaum perempuan dengan membungkusnya dalam naungan Islam, salah satu contohnya dengan menggunakan pakaian sesuai syariat, tidak ketat atau membentuk lekuk tubuh.
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Al Imran [3] : 14)
Dari Abu Said Al-Khudri ra dari Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita.” (HR. Muslim)
Salah seorang ustadz berkata, bahwa tak ada jalan lain bagi wanita agar tidak menjadi sumber fitnah, maka dia harus menjadi perempuan yang shalihah dengan mena’ati titah Alloh SWT dan Rasulullah SAW, jika sudah bersuami maka ditambah lagi dengan taat kepada suaminya, jika belum maka taatlah kepada kedua orangtuanya.
Jadi bagi kaum perempuan, mari kita sama-sama berusaha agar tidak menjadi sumber fitnah dengan menjadi perempuan shalihah, karena sesungguhnya perhiasan yang paling indah adalah perempuan shalihah, subhanallah!
Wallahu’alam.
“Ketika cita-cita sesederhana menjadi seorang ibu rumah tangga biasa menjadi begitu langka dan sulit sekali terlaksana.. Ketika begitu sedikit dari mereka yang bercita-cita jadi ibu rumah tangga seutuhnya.. Maka dengan seizin-Mu Yaa Rabb.. Perkenankanlah saya menjadi bagian dari yang sedikit itu.. Amiin.”
Ketika menulis catatan ini saya adalah seorang remaja yang berada dalam masa peralihannya menjadi seorang wanita dewasa, sedang menuntaskan tugas akhirnya di sebuah perguruan tinggi swasta kelas karyawan dan tinggal selangkah lagi menjadi sarjana.
Seorang wanita yang berada pada masa gemilangnya dalam meniti karir, bekerja di tempat yang baik dengan penghasilan yang sangat baik, anak perempuan yang membanggakan, kakak yang walaupun tidak terang-terangan dinantikan tetapi selalu dirindukan dan menjadi panutan, sahabat yang hangat, teman yang menyenangkan, rekan kerja yang walaupun sering datang terlambat, tetapi selalu dimaafkan karena rajin membawa makanan..
Entah semua itu benar adanya atau tidak. Yang jelas saya selalu percaya pada insting dan bagaimana cara hati membawa saya untuk merasa.
Sepintas, semua yang saya miliki, kehidupan saya yang nyaris begitu sempurna, adalah apa yang sebagian perempuan zaman sekarang impikan. Karir, pendidikan, keluarga, teman. Saya amat sangat bersyukur dengan keadaan saya. Semua yang Allah titipkan pada saya sekarang adalah apa yang dahulu pernah saya cita-citakan.
Alhamdulillah.. Allah memberikan kesempatan untuk merasakan dan membimbing bagaimana harus menyikapi begitu banyak cita-cita yang terlaksana menjadi nyata ini dengan baik dan bijaksana. Saya jadi teringat kutipan dari seorang ustazah, “Muslimah yang berjuang dalam kebaikan adalah mereka yang selalu to be continued.. berkelanjutan dan terus menerus…”
Kemudian saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan sederhana, “Apa cita-cita saya berikutnya?”
Di sinilah, di usia saya yang masih belum genap dua puluh dua tahun, saya merasa jadi lebih tua karena sepertiga partisi dari otak saya didominasi sesuatu yang sedang saya pertimbangkan untuk menjadi cita-cita saya di masa yang akan datang. Menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Sederhana.
Sepertinya mudah, tetapi entah dari sudut pandang mana saya menilainya, sekedar membayangkannya saja sulit sekali rasanya. Padahal pada hakikatnya, rumah tangga adalah ladang pahala yang sangat luas bagi seorang wanita.
Semuanya tidak lagi membanggakan ketika memiliki cita-cita menjadi ibu rumah tangga biasa dan seutuhnya mengabdikan diri kepada keluarga saja. Saya butuh waktu yang cukup lama untuk menimbang, malah bimbang, bahkan gamang.
Pelan-pelan mimpi itu bergumul dalam pikiran saya. Menyediakan bekal untuk suami tercinta, memberikan rumah yang bersih dan nyaman sepulangnya, pakaian yang bersih, wangi, dan tersetrika rapi. Betapa membahagiakannya bila saya bisa mengerjakannya sendiri, tanpa bergantung pada si “Mbak” (pembantu-red). Sungguh saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya akan cemburu jika suami lebih menyukai dan menikmati masakan si “Mbak”.
Kemudian … menjaga calon buah hati kami, membekalinya dengan gizi dan pendidikan yang baik bahkan jauh sebelum kelahirannya, mengenalkannya pada rangkaian hijaiyah, membacakannya cerita, mengobrol dengannya, ikut membangunkannya di waktu subuh. Saya tidak ingin kehilangan moment-moment penting dalam sembilan bulan itu.
Tidak ingin menyia-nyiakan dan membiarkannya berlalu begitu saja karena kesibukan saya bekerja. Saya tidak ingin hanya disibukkan mempersiapkan popok, baju, dan alas tidurnya. Saya ingin sibuk mempersiapkan kesiapannya menjadi seorang manusia.
Dan ketika Allah mengizinkan ia lahir ke dunia, betapa tidak inginnya cuti tiga bulan yang diberikan perusahaan kepada saya membatasi kebahagiaan saya. Saya tidak ingin rutinitas menyusuinya, memandikan, mengganti popoknya, berlangsung rutin hanya dalam tiga bulan saja. Saya tidak ingin kehilangan 8 jam dalam sehari dengan tidak melihat ia tumbuh besar dan pintar. Saya tidak ingin kehilangan menyaksikan langkah pertamanya.
Namun dengan intensitas yang sama, kekhawatiran yang lain juga hadir menyertainya. Bagaimana jika kelak saya berjodoh dengan seseorang yang biasa saja? Bukan mereka yang berpenghasilan “wah” tiap bulannya? Biaya perlengkapan anak, susu, dan pendidikan zaman sekarang kan mahal?
Lantas bagaimana dengan kehidupan sosial yang saya tinggal di luar sana? Lantas bagaimana jika (Naudzubillahi Min Dzaalika) suami yang saya tercinta berpulang ke rahmatullah di waktu yang tidak saya duga sebelumnya, sedangkan saya harus menggantikannya sebagai kepala keluarga?
No Execuse!! Allah telah menentukan dan mengatur jodoh, rezeki, dan maut bagi tiap-tiap kita. Banyak cara untuk mengupayakan rezeki yang disebar-Nya di seluruh muka bumi ini. Niat yang baik akan beriring dengan hasil yang baik, Insya Allah.
Rumah adalah sekolah dan madrasah paling murah bagi anak-anak kita, dan baik tidaknya kualitas pendidikan yang mereka terima itu bergantung pada kita, orang tua mereka. Maka bersemangatlah, Allah menghadirkan masalah berpasangan dengan solusinya. Pasti.
“Semoga Allah memberikan kemantapan hati jika cita-cita itu bukan sesuatu yang salah, menjadikannya tidak sebatas pada keinginan, tetapi juga kebutuhan. Semoga Allah memperkenankan cita-cita sederhana saya menjadi nyata, meridainya dan menjadikannya jalan terbaik yang dipilihkan-Nya untuk saya, memberi kemudahan bagi kami untuk melalui aral-melintangnya. Percaya bahwa Allah akan menjaga dan memelihara apa yang menjadi kepunyaan-Nya. Percaya bahwa berkarya menjemput rezeki-Nya bisa dimana saja. Percaya bahwa tidak ada sandaran hidup yang lebih baik selain Allah.”

Dunia semakin sempit serasa begitu terhimpit ,massa yang semakin sulit ??
Dunia semakin sempit atau kah Hati kita yang sempit ?
Seorang guru sufi suatu ketika menyapa muridnya, yang belakangan selalu tampak murung. “Kenapa kamu selalu murung? Bukankah di dunia ini banyak yang indah? Kemana perginya wajah bersukurmu?” sang Guru bertanya. Muridnya menjawab, “Guru, akhir-akhir ini hidup saya penuh masalah yang datang seperti tidak ada habisnya. Itu yang membuat saya sulit tersenyum.”
Sang Guru tertawa terkekeh. “Begini saja,” katanya “Kamu ambil segelas air dan dua genggam garam untuk memperbaiki hatimu.” Si murid merasa heran, tapi tanpa bertanya dia pergi. Tak lama dia kembali dengan gelas dan segenggam air.
“Masukkan air ke gelas itu, lalu masukkan garam sebanyak-banyaknya,” perintah Sang Guru. Lalu, “Aduk terus minum airnya sedikit.” Semua perintah itu dilaksanakan Si murid. Sekejap saja setelah meminum air itu, wajahnya meringis. “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “Asin, Guru! Perut saya jadi mual!” jawab Si murid. Mendengar jawaban itu dan melihat mimik wajah muridnya Sang Guru kembali tertawa terkekeh-kekeh.
“Sekarang kamu ikuti aku,” Sang Guru berkata sambil berjalan ke telaga. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan di situ,”perintahnya. Segera Si murid melaksanakan perintah itu. Sementara rasa asin di mulutnya belum hilang. Dia ingin membuang rasa asin dari mulutnya, tapi tidak berani. Dia sadar, tidak sopan meludah di hadapan guru.
“Minumlah air danau itu,” kata Sang Guru sambil berjalan mencari batu di pinggir telaga untuk diduduki. Si murid menangkupkan kedua tangannya, lalu mengambil air telaga, dan meneguknya. Ketika air telaga yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya, “Bagaimana rasanya?” Si murid menjawab dengan sumringah, “Wuaaaahh, segeer sekali Guru..!”
Tentu saja segar, karena air telaga itu berasal dari mata air di atas bukit sana. Ketika diminum, sudah pasti air itu mampu menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulut Si murid. “Terasa nggak, garam yang kamu tebarkan tadi?” tanya Sang Guru “Sama sekali nggak terasa,” jawab Si murid sambil kembali meneguk air telaga. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, dan membiarkan muridnya meminum air telaga sepuasnnya.
“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup kita ibarat segenggam garam. Tidak kurang, Tidak Lebih. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kita alami sepanjang hidup, sudah ditakar dan di jatah Allah. Jumlahnya tetap, tidak berkurang dan tidak bertambah. Tidak ada satupun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.” Si murid mendengarkan petuah gurunya dengan takzim.
“Tapi Nak,” lanjut Sang Guru, “Rasa ‘asin’ dari penderitaan hidup sangat tergantung dari luasnya hati kita yang menampungnya. Jadi supaya tidak merasa menderita, maka berhentilah menjadi gelas. Jadikan hati di dalam dada kita seluas telaga, agar kita bisa menikmati hidup.”
Suatu, ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan kepada sang anak untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah…
Hari pertama anak itu telah memakukan begitu banyak paku ke pagar setiap kali dia marah… lalu secara bertahap jumlahnya berkurang. Dia mendapati ternyata lebih mudah menahan amarahnya ketimbang memaku pagar.
Akhirnya tibalah waktu dimana si anak merasa benar-benar bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal tersebut kepada sang ayah, yang kemudian mengusulkan untuk mencabut satu paku satu hari setiap dia berhasil menahan marah.
Hari-hari berlalu dan si anak akhirnya memberitahu kepada sang ayah bahwa ia telah berhasil mencabut paku-paku tersebut, lalu sang ayah menuntun si anak menuju pagar belakang rumah.
“Hmmz.., kamu telah berhasil dengan baik anakku, tetapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. pagar ini tidak akan sama seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain…
Kamu bisa menusukkan pisau kepada seseorang, lalu mencabut pisau itu tetapi tidak perduli kamu meminta maaf luka tersebut tetap ada dan luka karena kata-kata lebih buruk dari luka fisik…”
Oleh karena itu sebaik-baik manusia adalah yang bisa menahan lisannya, karena banyak musibah yang diawali dari lisan.
Ketenangan Jiwa melahirkan sebuah
kebahagiaan yg murni,seseorang yg memiliki ketenangan jiwa mereka tetep tegar dan mantap menghadapi segala permasalahan hidup yg ada…
Ketenangan jiwa tidak akan kita miliki jika kita memiliki prasangka buruk atau slalu berfikiran negatif,
<p>Ketenangan jiwa yg melahirkan</p><p>kebahagiaan berawal dari Kepasrahan total manusia terhadap Sang Pencipta,menerima apapun yg telah dimiliki nya dan semangat</p>untuk memperbaikinya bukan mengubah sesuatu yg tidak mungkin.
Kebahagiaan dan ketenangan yg hakiki tidak akan menghampiri manusia yg tidak mengenal dirinya dan tidak mengenal Allah swt,betapa pun kaya orang itu,betapa pun
berkuasa orang itu…
Kita harus yakin bahwa kehadiran kita didunia bukanlah suatu yg
<p>sia-sia,ketenangan jiwa tidak sejalan dengan ketakutan.</p><p>selama kita khawatir maka kita tidak</p>akan bisa melihat ketenangan jiwa yg ada disekitar kita hanya ketakutan yg cenderung membuat kita melakukan hal yg justru menjauhkan kita dari ketenangan jiwa itu sendiri…
Dalam mencari ketenangan jiwa kita juga harus menyeimbangkan antara Hati dan Akal.
<p>Adapun Hati ia melampaui dimensi</p><p>antara Ruang dan Waktu,seringkali Hati bersikap irasional namun kerap kali pula ia terbukti benar jika kita</p><p>melakukannya.</p><p>kebanyakan saat ini kita cenderung menafikan hati karna beranggapan kebenarannya tidak dapat</p>diverifikasi…
Disinilah peran Hati mengisi ketidakberdayaan Rasio ketika kita
<p>menyeimbangkan hati agar kita bersedia,rela ikhlas dan mampu mengembalikan kekuatan</p><p>maksimum rasio yg pada akhirnya tak</p><p>berdaya kepada Allah swt karna hanya Hati lah yg mampu melihat hal-hal yg tidak dapat dibaca rasio,cara Hati bekerja adalah MEMPERCAYAI dan MEYAKINI sedangkan rasio</p><p>bekerja dengan MEMBUKTIKAN kepercayaan dan keyakinan diasah melalui apa yg sudah kita kerjakan,</p>Hati yg terasah dengan baik akan menghasilkan kepasrahan dan keyakinan,intinya PASRAH serta TAWAKAL…
Lain hal nya dengan sifat Dengki atau iri Hati,
<p>Adakalanya gelang di tangan orang yang hendak dirampas tidak dapat dirampas dan mengapa malah cincin yg di jari sendiri terlucut hilang ???</p><p>Begitulah peribahasa Melayu menggambarkan keadaan orang yg menyimpan rasa dengki,harapan</p><p>ingin mendapatkan sesuatu yg menjadi milik orang lain namun tak didapatkan malah sesuatu yg menjadi milik sendiri dikorbankan,karna sejatinya pendengki selalu rugi tak ada keuntungan sedikitpun bagi</p><p>pendengki bahkan gambaran peribahasa tersebut belum cukup menggambarkan total kerugian orang yg dialami dan orang yg</p>terjangkit penyakit dengki…
Jika umumnya manusia berpikir dan berbuat untuk sesuatu yg menguntungkan dirinya, atau
<p>sekedar menyenangkan hatinya, tidak demikian halnya dengan pendengki tiada keuntungan sedikitpun yg dihasilkan</p><p>pendengki,tiada pula kesenangan hati yg dipanen oleh orang yang hasut…</p><p>Kerisauan hati yg tak putus-putus dialami oleh pendengki saat melihat orang lain mendapat nikmat,</p><p>Semakin banyak nikmat di dapat orang lain makin menguat gelisah</p><p>hati pendengki dan ini tidak akan berakhir hingga nikmat tersebut hilang dari orang yg</p><p>didengki nya bahkan terkadang belum terobati juga rasa dengki itu sebelum orang yg</p>didengki nya tertimpa banyak kerugian…
Dari sini kita tahu betapa jahat nya seorang pendengki,ia tidak rela melihat orang lain bahagia sebaliknya ia bersuka cita melihat orang lain
<p>bergelimang lara,</p>Allah swt menggambarkan sikap dengki ini dalam firman-Nya :“Bila kamu memperoleh kebaikan maka hal itu menyedihkan mereka dan jika kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya.” (QS. Al-Imran: 120)
Berbeda dengan kesedihan atau musibah yg dialami oleh orang yg bersabar tidak ada kegalauan seperti yg akan terus menerus dirasakan oleh para pendengki dan merupakan musibah berat yg sama sekali tidak
<p>mendatangkan pahala bahkan berpotensi menggerogoti kebaikan seumpama api melalap kayu bakar yg telah kering,</p><p>Rasulullah saw bersabda : ”Hindarilah oleh kalian hasad karena hasad bisa memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar.” (HR Abu Dawud)</p><p>Maksud memakan kebaikan adalah</p>menghilangkannya,membakarnya dan menghapus pengaruhnya seperti yg disebutkan dalam Kitab Faidlul Qadiir,ini juga menunjukkan bahwa kebaikan itu bisa sirna dalam sekejap jika terbakar oleh kedengkian…
Makin besar api kedengkian makin cepat melalap habis kebaikan kita (Na’udzubillahi min dzaliq),
<p>Al-Manawi di dalam at-Taisir bi Syarhi al-Jami’is Shaghir menjelaskan sebab dihilangkannya kebaikan pendengki</p><p>adalah : “karna orang yg dengki itu berarti menganggap Allah swt jahil tidak bisa memberikan sesuatu sesuai dengan proporsi nya.”</p>Ia menganggap Allah salah dalam mengalamatkan nikmat dan karunia seakan ia lebih tahu dari Allah tentang siapa yg lebih layak untuk mendapatkan nikmat serta karunia-Nya…
Sehingga layaklah pendengki dihilangkan kebaikan-kebaikannya, sungguh rugi para pendengki akan slalu merasakan risau di dunia,terancam bangkrut di akhirat (hilang amal ibadahnya),
Akan sangat membahayakan dirinya sendiri dan Orang Lain jika efek kedengkian semakin parah ketika
<p>pendengki berambisi melampiaskan</p><p>kedengkiannya maka akan makin kuat kedengkian dan</p><p>ambisi melampiaskan,makin besar pula dosa dan bahaya yg ditimbulkan baik mengenai</p><p>diri sendiri maupun orang lain bahkan dosa pertama yg dilakukan oleh iblis disebabkan oleh dengki,iblis menganggap dirinya lebih layak mendapat penghormatan daripada</p>Nabi Adam a.s. Karnanya iblis berani menentang perintah Allah yg menyuruhnya bersujud kepada Nabi Adam a.s.
Jadilah iblis sebagai makhluk yg terkutuk dan dipastikan bakal menempati neraka jahanam selamanya.
<p>Kedengkian terus berlanjut iblis</p><p>berusaha dan akhirnya berhasil</p><p>menggelincirkan Nabi Adam a.s.</p><p>Dan itupun masih belum puas iblis</p><p>bersumpah untuk menggoda dan</p><p>menyesatkan semua keturunan Nabi Adam a.s.,</p><p>Dari sini lahirlah segala bentuk</p>kemaksiatan dan dosa yg merupakan syi’ar iblis dan siasatnya untuk menjerumuskan anak Nabi Adam a.s.
Sekali lagi,bermula dari hasad.
<p>Maka hendaknya orang yg menaruh</p>kedengkiannya kepada saudaranya segera menyudahi sebelum melahirkan segala bentuk dosa yg tidak terbayangkan sebelumnya,
Contohnya : Pembunuhan pertama yg terjadi di jagad raya ini yg dilakukan oleh Qabil terhadap Habil juga disebabkan oleh dengki, Qabil tak bisa menerima kenyataan atas nikmat yg dianugerahkan Allah kepada Habil saudara kembarnya dari sebab yg sepele ini ketika dipicu oleh dengki akhirnya berujung pada pembunuhan yg dilakukan Qabil terhadap saudaranya.
Dan memang umumnya kedengkian tertuju kepada orang-orang terdekat, saudara,keluarga,teman sejawat,tetangga dan orang-orang yg memiliki ikatan tertentu dengannya.
Sebab rasa dengki itu timbul karna saling ingin mendapatkan satu tujuan,namun itu tak akan terjadi pada orang-orang yg saling berjauhan karna pada keduanya tidak ada kepentingan yg mengikat satu sama
<p>lain.</p><p>Bila Hati Bersih dari Rasa Dengki maka ketenangan dunia akan kita raih,</p><p>Kedengkian bermuara dari hubbud dunya,gandrung terhadap dunia baik berupa gila tahta sehingga ia dengki terhadap siapapun yg sedang memegang suatu posisi jabatan</p><p>yg diinginkan atau karna ta’azzuz,gila</p>hormat dan merasa diri lebih mulia maka ia keberatan bila ada orang lain lebih dihormati dari dirinya.
Bagi orang yg memiliki orientasi akhirat juga ingin damai hatinya di dunia tentu rasa dengki di hati segera dicampakkannya karna tak ada
untungnya hati mendengki jika ternyata yg kita dengki akhirnya masuk jannah,maka bagaimana mungkin kita sakit hati dan dengki kepada orang yg ternyata menjadi penghuni jannah dan jika ternyata yg didengki masuk neraka,buat apa kita kita iri atas nikmat yg disandang oleh orang yg berakhir dengan penderitaan selamanya…
Ya Allah jagalah hati kami dari sifat iri dan dengki…
Kunci menuju ketenangan hati.
1. Dzikirlah dan Ketuklah, maka akan terbuka.
<p>Ingatlah slalu pada-Nya maka Allah akan mengingatmu.</p>Berdoalah maka keluh kesahmu akan didengarkan-Nya…
2. Shalatlah
3. Sedekahlah
4. Jangan tergantung pada orang lain tapi bergantunglah pada diri sendiri dan bersikaplah mandiri serta memohonlah pada Allah setiap kesulitan pasti bisa kita lewati dan ada jalan keluarnya…
5. Jangan berburuk sangka orang lain yg membicarakan/menghinamu…
6. Jangan menyesali masa lalu (Kesalahan yang terjadi) tapi jadikanlah masa lalu sebagai guru terbaik…
7. Jangan menyimpan kemarahan,dendam,iri
hati dan kebencian…
8. Jangan membiasakan sikap terburu-buru karna itu akan menambah kegundahan.
9. Jangan khawatir akan hari esok karna Allah menjanjikan masa depan dan harapan kita tidak akan pernah lenyap,
<p>Tentang Cinta,hidup dan</p><p>mati semua ada di tangan Allah karna Dia telah menuliskan takdir manusia jauh saat sebelum kita di lahirkan,</p>Dia tahu apa yg terbaik bagi kita,maka dari itu jangan pernah sesali apa yg terjadi meskipun terasa perih bagi kita…
Termenung dan tak terasa menetes butiran-butiran hangat dipipi,saat kau mencari makna dalam hati akan sebuah pertanyaan yang sangat indah membuatmu tersadar & malu akan dirimu…
“Ya Ukhti… benarkah kau mengharapkan seorang suami yang shaleh ???
sudah siapkah kau mendampingi suami yang shaleh ???
apa yang tengah kau persiapkan agar kau bisa mendampinginya ???
taukah kau ukhti kehidupan orang shaleh itu mungkin berbeda dengan kehidupanmu,jika kau tak mempersiapkannya dari sekarang apakah kau akan benar-benar mencintainya dunia & akhirat ???
ingat pertanyaanku mencintai seorang gadis sahaja dunia dan akhirat,bukan cinta perkara dunia saja yang ukhti cintai namun cinta yang akan berakhir dikehidupan nanti yang abadi,
Mungkin kau hanya akan terdiam lalu bertanya & terus bertanya dalam hati,”sudah siapkah aku ???”
“apa yang tengah aku persiapkan untuk menyambutnya dalam do’a ku hanya memohonkan agar dikaruniai suami yang shaleh namun kadang terlupa berdo’a memohonkan petunjuk & bimbingan-Nya agar aku menjadi wanita shalehah”
Seraya kau akan berdo’a :
Ya Allah betapa naif dan sombongnya diri ini yang hanya memohonkan kebaikan untuk diriku tanpa mau memohonkn perubahan untuk diri agar menjadi lebih baik…
Ya Allah,Engkau telah berfirman bahwa “wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula),dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik & laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula),(QS.An Nur:26)”
“kalau kita brkualitas disisi Allah,pasti yang akan datang juga seorang (jodoh untuk kita) yang berkualitas pula (Al Izzah 18/th 2)…”
Ya Allah… Astaghfirullaahal’adzim… Astaghfirullaahal’adzim… al ladzii laa ilaaha illaa Anta,subhaanaka ana kunta minadz dzaalimiin
Maafkan hamba,sungguh janganlah Engkau murka,hamba sangat takut bila Engkau membiarkan hamba menjadi wanita/lelaki keji,bimbinglah hamba agar menjadi wanita muslimah/lelaki muslim yang senantiasa mencintai & mengharap Ridha Engkau…
Aamiin ya Rabbal’alamiin…
Malam ini langit terlihat muram tak ada cahaya selain kilatan petir berulang menggoreskan garis kelam di kanvas malam…
Dingin membekukan hati,angin mencipta gigil di sela raga yang kian terkucil…
Sehelai daun terjatuh dari ranting nya diantara butir-butir gerimis, ku bertakbir, bertasbih & bertahmid dalam keheningan malam…
Cinta ini milik-Mu, karna-Mu & atas ridha-Mu ku bersujud dalam suratan takdir-Mu yang haqq, ku pasrah dalam setiap rencana-Mu, berkahi aku dengan keridhaan-Mu Ya Allah disetiap langkahku…
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al Qashash 28 : 77)
KESEIMBANGAN, KESADARAN DI TITIK AKHIR ??
Dari beberapa pertemuan saya dengan beberapa orang tua… , ada beberapa kalimat yang memiliki kemiripan dari mereka, yang selalu disampaikan kepada saya, yaitu tentang bentuk kesadaran spiritual yang seringkali saya dengar, baca dan amati selama ini. namun yang menarik adalah ketika mereka menyampaikan bahwa, “hidup kita, di saat usia senja, baru merasakan bahwa ternyata Kesimbangan dunia dan akhirat ternyata masih jauh yang diperintahkan oleh Allah Swt…” ada juga yang menyampaikan kalimat ” masa muda, banyak hal yang membuat kita lalai dan melalaikan, entah apa akan cukup waktu atau tidak untuk menyeimbangkannya…”
KESEIMBANGAN, SEBUAH DIALOG JIWA…
Keseimbangan Dunia Akhirat bukan 1+1=2, atau 50 : 50 …paling tidak itu yang terlintas di hati, ketika mengamati sekilas paradigma dalam kehidupan di Dunia ini, banyak sekali perubahan dan pergeseran perilaku kehidupan Manusia. Ketika sudah tidak asing lagi upaya untuk mencari kekayaan materi dan kesenangan duniawi dengan segala cara, sehingga melupakan kodratnya sebagai Manusia yang seharusnya mengabdi pada Sang Pencipta.
Kita harus menyadari bahwa Kehidupan Dunia adalah kehidupan sesaat, yang di ibaratkan di dalam Al Qur’an hanyalah sebagai “sebuah senda gurau belaka”. Kehidupan Akhirat lah sebenarnya yang merupakan kehidupan yang kekal abadi.
Penting sekali memupuk Kesadaran terus menerus untuk mengetahui dan meyakini siapa Pemilik dan siapa Yang Berkuasa pada kehidupan Akhirat dan pemilik Kehidupan Dunia. Karena sudah seharusnya terbentuk kesadaran bahwa tugas seorang Manusia hanyalah Beribadah, dalam segala aspek, setiap gerak langkahnya adalah untuk beribadah, Didalam Al Qur’an – Surah Al An’aam ayat 162, tertulis bahwa:
“Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidupku dan Matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam”.
Dan pada dasarnya tugas utama Manusia di Dunia, adalah “mengabdi” pada Sang Pencipta, sesuai dengan aturan-aturan-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam Surah Az Zariyat ayat 56, Allah ber-Firman :
“Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan agar mereka ber Ibadah kepada-Ku”.
DUNIA DAN AKHIRAT, KESEIMBANGAN YANG PROPORSIONAL…
Iya, Kesembangan Dunia dan Akhirat, bukanlah 50 : 50 . Dalam analogi yang sederhana, seperti kita menyeduh Kopi, dimana untuk memperoleh Rasa yang Nikmat, gula, kopi dan Air tidak diseduh dengan Porsi yang sama…tetapi haruslah proporsional sehingga tercipta rasa Minuman Kopi yang Nikmat kita rasakan. begitu Pula, dengan kenikmatan atau kehidupan yang abadi, dimana keseimbangannya harus proporsional dengan kenikmatan atau kehidupan yang hanya sementara….
Jadi semakin jelas bagi kita, bahwa kehidupan kita di Dunia ini harus benar-benar disadari hanyalah untuk Allah SWT semata.
Semua kegiatan atau aktivitas kita, dan apapun yang kita kerjakan di Dunia ini hanyalah untuk Allah SWT semata, baik itu belajar di sekolah, bekerja, berusaha, menikah, mendidik serta membesarkan anak, mengurus rumah tangga, bersosialisasi dan lain-lain kegiatan atau aktivitas rutin di dalam kehidupan kita di Dunia ini.
“Bekerjalah untuk Duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk Akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok hari…” Sudah selayaknya kita memiliki Upaya yang sungguh-sungguh, didalam menjadikan Dunia sebagai Ladang bagi Kehidupan Akhirat kelak, Kita tidak lantas harus menjadi sekuler dalam menyikapi kehidupan dunia dan Akhirat, tidak Membelah Jiwa kita menjadi dua bagian, satu bagian untuk dunia, satu bagian untuk akhirat. Yakinlah, bahwa jika Seluruh hidup ini hanya untuk Allah, maka Allah akan memberi kita “Kehidupan“, jika kita mengutamakan kehidupan Akhirat, Maka Kehidupan Dunia akan mengikutinya, berbuat Baiklah kepada sesama, sebagaimana Allah telah berbuat Baik kepada kita, dan pikulah amanah untuk beribadah kepadaNYA dengan Ikhlas Ridlo tanpa berbuat Kerusakan…
Irhamna Ya Rabb, Engkaulah Pemilik Segala Kesempurnaan…

Langganan:
Postingan (Atom)



