Oh...BBM Naik ....

on Minggu, 23 November 2014


Dunia semakin sempit serasa begitu terhimpit ,massa yang semakin sulit ??
Dunia semakin sempit atau kah Hati kita yang sempit ?

Seorang guru sufi suatu ketika menyapa muridnya, yang belakangan selalu tampak murung. “Kenapa kamu selalu murung? Bukankah di dunia ini banyak yang indah? Kemana perginya wajah bersukurmu?” sang Guru bertanya. Muridnya menjawab, “Guru, akhir-akhir ini hidup saya penuh masalah yang datang seperti tidak ada habisnya. Itu yang membuat saya sulit tersenyum.”

Sang Guru tertawa terkekeh. “Begini saja,” katanya “Kamu ambil segelas air dan dua genggam garam untuk memperbaiki hatimu.” Si murid merasa heran, tapi tanpa bertanya dia pergi. Tak lama dia kembali dengan gelas dan segenggam air.

“Masukkan air ke gelas itu, lalu masukkan garam sebanyak-banyaknya,” perintah Sang Guru. Lalu, “Aduk terus minum airnya sedikit.” Semua perintah itu dilaksanakan Si murid. Sekejap saja setelah meminum air itu, wajahnya meringis. “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “Asin, Guru! Perut saya jadi mual!” jawab Si murid. Mendengar jawaban itu dan melihat mimik wajah muridnya Sang Guru kembali tertawa terkekeh-kekeh.

“Sekarang kamu ikuti aku,” Sang Guru berkata sambil berjalan ke telaga. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan di situ,”perintahnya. Segera Si murid melaksanakan perintah itu. Sementara rasa asin di mulutnya belum hilang. Dia ingin membuang rasa asin dari mulutnya, tapi tidak berani. Dia sadar, tidak sopan meludah di hadapan guru.

“Minumlah air danau itu,” kata Sang Guru sambil berjalan mencari batu di pinggir telaga untuk diduduki. Si murid menangkupkan kedua tangannya, lalu mengambil air telaga, dan meneguknya. Ketika air telaga yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya, “Bagaimana rasanya?” Si murid menjawab dengan sumringah, “Wuaaaahh, segeer sekali Guru..!”

Tentu saja segar, karena air telaga itu berasal dari mata air di atas bukit sana. Ketika diminum, sudah pasti air itu mampu menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulut Si murid. “Terasa nggak, garam yang kamu tebarkan tadi?” tanya Sang Guru “Sama sekali nggak terasa,” jawab Si murid sambil kembali meneguk air telaga. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, dan membiarkan muridnya meminum air telaga sepuasnnya.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup kita ibarat segenggam garam. Tidak kurang, Tidak Lebih. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kita alami sepanjang hidup, sudah ditakar dan di jatah Allah. Jumlahnya tetap, tidak berkurang dan tidak bertambah. Tidak ada satupun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.” Si murid mendengarkan petuah gurunya dengan takzim.

“Tapi Nak,” lanjut Sang Guru, “Rasa ‘asin’ dari penderitaan hidup sangat tergantung dari luasnya hati kita yang menampungnya. Jadi supaya tidak merasa menderita, maka berhentilah menjadi gelas. Jadikan hati di dalam dada kita seluas telaga, agar kita bisa menikmati hidup.”

0 komentar:

Posting Komentar