KELAM

on Rabu, 13 Agustus 2014



Terkadang aku terantuk batu
Perih hati menyayat pilu
Terkadang rasa sayangmu datang sekejap
Lalu tinggalkan hati yang kelam

Mengapa aku begitu ambisi
Jika sayang itu berakhir mimpi
Hanya bayang yang bisa kudekap
Hanya mimpi kita beradu kasih

Tanpa terasa kini
Walau mulut tersenyum kata,
Tak berasa air mata ini menetes
Sesak menyumbat kalbuku

Terasa hilang segala emosi
Hanya kelam menyelimuti diri
Hidup antara bayang dan mimpi
Memberi untuk lepaskan pergi

Wahai adindaku sayang,
Pergilah dengan sejuta harap
Doaku terbentang untuk bahagiamu
Tangis pilu tak usah halangi langkahmu

Terkadang hatimu rasakan gundah
Tak tahu harus katakan mengapa
Terkadang aku terbalut sedih
Namun senyum ini hilangkan curiga

Mengapa hati tertambat
Sementara mata belumlah tertaut
Sementara gapai tangan hanya mimpi
Hanya suara lambungkan itu semua


Kau menuduh tuk tutupi keinginan
Aku menipu menambah tangisan
Kadang kata tersambung kelu
Walau hati katakan sayang

Kita adalah misteri
Entah kapan bersua tuk katakan benci
Entah kapan bertemu tuk ungkapkan diri
Entah kapan sinar mata teduhkan hati

Pergilah pergi merenda hari
Kado bahagia khan turut serta
Smoga cinta khan tumbuh merona
Biarlah mimpi untukku semata

Kedukaan hati terasa biasa
Hidupku antara cinta dan luka
Janganlah dikau terjebak aku yang papa
Engkau punya hak tuk bahagia

Biarlah sepi selalu menggelayuti
Hanya kenang mohon kau izinkan
Sebagai teman kegersangan ini

Smoga adinda……lupakan diri ini        

(kusembunyikan rasa dalam puisi)

0 komentar:

Posting Komentar